Jumat, 11 September 2009

Sabtu, 08 Agustus 2009

Si "Dia" adalah keterpesonaan

Si “Dia” Adalah Keterpesonaan

Pemuda itu masib bersama sang malam dalam keheningan. Kawannya adalah kesepian. Jauh dari keramaian yang tamp[ak membosankan penuh dengan hingar bingar kebisingan. Kegiantan untuk mengejar kesepian adalah kegiantan rutin yang tidak bisa ditinggalkan. Karena ia selalu sepi gelisah apa adanya, sekalipun kebisingan disekitarnya menhebntak- hebtak telinga. Pemuda itu seperti yang dulu-dulu tidak banyak perubahan dengan pekerjaannya. Hanya usia dan penampilan yang berubah. Sudah tumbuh janggutnya, halus tumbuh kumisnya. Ia tumbuh menjadi pemuda yang sederhana.

Ia masih termenung memandang lampu templok yang baru saj dinyalakannya. Apinya dibuat lebih besar menyala untuk menerangi gelapnya malam itu dan hujan yang baru saja turun. Bulan tidak lagi setia menemaninya. Padahal ia selalu menemani nya. Tapi rembulankini pergi entah kemana. Seperti orang-orabg yabg dicintainya pergi meninggalkannya begitu saja.

Sehabis hujan langit terang. Laron-laron berterbangan menghampiri cahaya lampu minyak yang menyala tampak menarik, dengan liukan-liukan diterpa oleh angin malam. Mendekat dan mendekat. Lalu terbakar oleh api. Iapun tersenyum. Senyumnya mengermbang sekali, seakan teringat pada nabi musa ketika bertajalli di bukit sinai.

Semua mahluk-mahluk tertarik pada hal-hal yang bercahaya. Baik itu manusia maupun laron-laron itu. Semuanya akan mendekat apabila memperoleh pancaran dari sinarnya. Karena esensi cahaya memberi penerangan pada apapun di dalamnya. Ini batu, ini mas, ini kertas dan ini uang. Manusia membutuhkan sinar kehidupan.

Tapi tidak bagi pemuda melangkonis itu. Wajahnya kontra dengan langit sehabis hujan yang tampak terang. Ia bilang kepada saya “saya mulai jatuh cinta pada malam”. Aku tidah habis pikir mengapa ia jauh cinta pada malam. Apa yang di harapkan pada malam-malamnya. Sebelumya ia adalah pemuda yang normal adanya sama seperti yang lain. Selalu ceria, ambisius, murah senyum. Dalam satu kesempatan aku pernah menanyakan kepadanya mengapa ia jatuh cinta pada malam?. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Kareana setepat-tepatnya jawaban ada pada dirinya.

Dia tersserang penyakit kronis dan tidak ingin sembuh dari penyakitnya, yaitu penyakit cinta. Kata pujangga penyakit cinta adalah jenis penyakit yang apabila seseorang terserang dia tidak ingin menuai kesembuhan atau repot-repot meyembuhkannya. Karena penyakit itu akan membuat malam tampak indah walau tampa bintang dan rembulan. Karena pecinta sudah memiliki bintang dan rembulan di hatinya.

Pemuda itu adalah aku. Dan jorang yang bertanya tentang perihalku adalh gejolak athinku. Dialek cinta antara aku dan bagian diriku palind dalam. Tentang perihal keagungan tuhan yaitu anak manusia yang banyak memperoleh berkah tuhan. Si “Dia” adalh keterpesonaan. Aku mulai merasakan satu wujud suci yang sakral, yaitu cinta pada anak manusia yang memperoleh banyak karunia tuhan tentunya. Tak terbayangkan kiranya mengapa segalanya mengalun tampak indah. Berseminya bungan di taman firdaus. Cahaya menarikku ke dalam menjadi keindahan dan kecantikan meneruskan keapa saja. Distribusi yang cantik dari akhir hal kecantikannya. Karena kecantikan akan mamanggil apa saja kepadanya. Maka yang tersisia hanya keterpesonaan.

Ya, akualah orang yang terpewsona ti. Oleh sinar keindahan dan menarikku ke dalam wujud kecantikannya. Aku tertahan di dalamnya. Ketertarikan ini bukan sebuah wujud syaithaniyyah. Ini wujud keagungan tuhan, tapi bukan tuhan.

Dalam hatiku mulai tercarahkan oleh pancaran Ilahi dari keterpesonaan wujud yang elok. Indah semilir pagi. Indah dengan pantulan cahaya sabg surya di kal senja. Menghiasi bumi denga kilau-kemilau keemasan. Teofani seperti ini tidak pernah aku alami sebelumya. Aku tidak bisa berujar kata-kata cinta. Atau mewujudkan cinta. Karena diriku adalah cinta. Tanganku, wajahku, pandanganku, pendengaranku, kata-kataku adalah cinta. Cinta di atas cinta. Cinta tidak bisa didefinisikan dan dijeaskan. Definisi terlalu sempit. Cintaku bercerita dengan bahasa tampa huruf, tampa suara, tampa kata-kata , bahkan dengan bunga atau apa saja. Cinta bagaikan kemurnia menuju nurani. Nurani sejati yang penuh dengan kemilau Ilahi. Kita harus menjadi nurani itu sendiri. Barulah kita berkata denga nurani, berjalan dengan nurani, memandang dengan nurani. Nurani adalah medan terbesar untuk berbicara kebenaran. Atau 70 kali lebih besa untuk melihat kebenaran dari pada dua penglihatan. Atau lokos pengejawantahan penyingkapan diri. Ia adalah pesuruh suci yang selalu taat kepada keputusan tuhan.

Derita Cinta

Taman firdaus telah mengembang dalam jiwa-jiwa para pencari. Pencarian sejati dalam wujud keagungan tuhan. Si Bulblul telah menemukan Simurg. Para pencari dari barat dan timur telah menemuakan kekasih-kekasih. Beratu meraih kebahagiaan. O, Romeo dan Juliet, o, Yusuf dan Zulaikha, o, Qais dan Layla. Sedangkah diriku!!. Wajah kekasih bnagai rembulan digelayuti rambul ikal yang mambuat hati terkait dalam ranting-ranting kerinduan.

Wajah mengembang dalam kata-kata penuh ekstasi dengan luapan perasawan keharuan dan cinta. Mewarnai keterpisahan dengan seorang kekasih. Angin berhembus kencang menerpa wajah dan memainkan rambut kekasih dengan jari-jari lentiknya denga penuh kasih mesraa. Panas mentari dan desir angin memeluk dan membakar gelora cinta yang membara. Bertanya tentang keberadaan dan kabar di perantauan tuan. Tutur kata burung Hud, utusan Sulaiman adalah dari kekasi di ujung penantian dan penderiataan. Yang meracik obat untuk mengobati luka kerinduan.

Puisi…..

Salome apakah kau bersam kekasihmu di dalam. Ketika pencariaanmu perihal-Nya telah meninggalkan istana kemegahan dan membuat ide basar membuat marah tuhan. Salome sahabatku kelurlah dari rumah kerinduanmu. Temuilah sahabatmu yang telah lama dirudung penyakit cinta pada seorang perempuan jelita. Salome keluarlah, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu tentang cinta, yang tidak pernah aku alami sebelumya. Perihal apakan cinta itu Salome sahabatku?.

Ketu,kan kesabaran akan menuai keterbukaan pintu oleh si Fulan. Tidak dengan kegusaran. Hingga tampak oleh mata wajahnya dan datanaglah kemudian sebuag panggilan kepadanya, menemui si pengetuk pintu, bukan yang lain. Karena ian melingkupi wujud. Maka, tiada sesuatupun di hati dan pandangan selainya.

“oh, kau sahabatku Bilhaanna. Bagaimana keadaanmu apakah baik-aik saja?” tanya Salome kepada Bilhanna denga penu/h perhatian.

“aku tidak tahu, apak mungkin keadaanku apa yang kau saksikan sekarang ini, tidak lebih dari seorang Majnun. Aku di dera cinta. Semua itu menyulitkanku” Jawab Bilhanna.

“mengapa bisa begiti, sejak kapan kau telah mengenal cinta. Padahal kau begitu rasional memandang cinta, ketika aku dirudung cinta yang begitu mendalah dealam pencarianku.”

“ketika seorang gadis, hadir dalam hati ini dan mulai akrab denan malam-malm penuh mimpi.”

“oh sahabatku jyang dirudung kerinduan, tampak deritamu oleh kilas pandangan mata manusia. Karena badanmu yang kurus tak terurus, dan compang camping pakaianmu dan lusuhnya wajahmu. Di mana keagungan dean ketampanan wajah yusufmu?. Apakah kau sembunyikan dalam debu di wajah dan compang camping pakaianmu. Dan membuatku lupa ketika kau tidak memyebutkan Bilhanna sahabatku yang tampan dang anggu. Tetapi yang tidak dapat kau sembunyikan dalam semengembangan senyummu. Menjadi ciri khasmu. Hatimu yang mengembang bahagia tak terobati oleh cinta. Tampakkanlah dirimu sebagai pecinta yang baik. Kebaikan dan keterurusan dirimu dan bathinmu menandakan keterurusan jiwa, kebersihan jiwa yang selalu berada dalam pancaran cahaya tuhan. Tuhan mencintai keindahan. Compang camping pakaianmu telah menyia-nyiakan keindahan. Hiasilah jiwamu dan dirimu sendiri dengan keindahan. Karena menciptakan keindahan. Maka senyum yang semengembang itu akan tampak bagai sosok kesempurnaan khalifah tuhan.”

“itulah Salome yang ingin kutanykan kepadamu. Kau adalah jiwa pecinta sejati, yang tidak mudah goyah oleh tetek bengek kehidupan. Kau begitu tinggi, sehingga tidak mudah digapai. Namun angin juga tidak menunbangkanmu. Kau sudah mewarisi jiwa-jiwa para pencari. Kau adalah jiwa itu. Aku ingin mewarisinya darimu, tepat ketika aku di rudung cinta.” Kata Bilhanna.

“perihal apkah cinta itu Salome, terangkanlah kepadaku hakekat cinta. Apakah perihal cintaku kepadanya sejatinya sebuah cinta. Seperti Arabi ketika mengangumi wajah cantik Nizhami untuk mengangungkan tuhan. Apakan aku seperti Rabiah?, pecinta sejatinya cinta?, apakah aku sepeti Iblis pecinta yang nestapa?”

“perihal cinta adalah perihal tuhan. Sahabat karib tuhan. Ini denga penuh luapan cinta tidak dengan ketakutan dan atau hanya keinginan semu balaka, yang menjauhkan dari eksisitensi cinta. Ketika kamu merasakan cinta maka kamu mengalami kekudusan. Hati berbunga-bunga, bahagia, sena,ng,. seperti di taman firdaus. Kau jangan menjadi pecinta nestapa, yang membiarkan dirinya meas ditelantarkan oleh cinta. Kau harus menjadi pecinta yang baik. Karena pecinta yang baik tahu t\erhadap hakekat cinta. Bukankah begitu temanku Bilhanna.” Sambut Salome dengan senyum dan ramahnya.

Ketika rasa mulai mencapai puncaknya, seperti halnya Salome menginginkan wajah tuhan hadir di hadapan dirinya. Mengangungkan cita-citanya yang tinggi. Sitingi langit tingkat tujuh. Tidak lebih tinggi lagi. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Akulah jiwa Salome yang mewarisinya dari perenungan paling dalam. Sejengkal hidup ini. Ketimbang kuasa tuhan. Aku bukan Salome sebenrnya. Tapi semangat jiwaku sama seperti cita-cita Salome menginginkan hadirnya tuhan. Nahkan perlombaan demi perlombaan, rayaun demu rayaun yang pernah dilakukan oleh para perwira. Herodoes dan Herodiah mengalami kegagalan membujuk Salome untuk kembali kepad istana kemegahan. Dengan segala harta. Keindahan. Kekuasaan dan segenap gemerlap duniawi. Menyilaukan tak membuat Salome urung mencari Tuhan. Sampai membuat keputusan membuat marah tuhan.

Akulah jiwa Salome, menemukan keindahan tuhan dalam seraut wajah bagai rembulan. Digelayuti rambut ijal yang berwujud sebagi dirimu.